Harus berapa lagi ku teteskan air mataku untukmu?
Walau kota ini terbenam oleh air mataku
Kau tidak akan pernah peduli denganku lagi
Dengan perasaan ini...
Semuanya terasa percuma
Terbuang sia-sia begitu saja
Hanya kata maaf yang kau ucapkan
Dan kau pun pergi meninggalkanku sendiri
Tanpa senyumanmu yang memang sudah bukan untukku
Karena sudah menjadi miliknya
Ku sadari semua itu, walau sulit menerima kenyataan
Mungkin karena cinta ini terlalu dalam
Hingga dalam pula luka yang aku rasakan
Sungguh sakit aku rasakan
Biarlah ini mendarah daging dalam ragaku
Sampai nanti, sampai aku mati
Pergilah dan bahagia bersamanya
Ku kan mencari bahagiaku sendiri
Trian Anugrah
29-05-2014
Jika kita menerima cobaan yang berat bukan berarti hidup kita sudah tidak ada artinya lagi. Tetapi itu adalah kesempatan kita untuk berbuat yang lebih baik dari yang sebelumnya.
Rabu, 28 Mei 2014
Selasa, 27 Mei 2014
Kata Mutiara 1
Mengalah bukan berarti kalah, justru dengan mengalah, suatu saat kita akan mempunyai senjata untuk menyadarkan kesalahan seseorang
Jumat, 19 Juli 2013
Cerpen : Sahabat Tak Terlupakan
SAHABAT TAK TERLUPAKAN
Suara
azan subuh dan suara kokok ayam membangunkan Nita. Dengan kondisi yang masih
mengantuk, ia berjalan pelan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah itu, ia berjalan menuju kembali ke kamarnya. Diambilnya mukena dan
sajadah yang terlipat rapi di dalam almari kamarnya dan segera ia mengenakan
mukena tersebut dan menggelar sajadah menghadap kiblat. Kemudian, Nita
menunaikan ibadah sholat subuh yang didahului dengan mengerjakan sholat sunah
qobliyah subuh yang pahalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Selesai
sholat subuh, Nita menuju ke dapur mengambil nasi dan lauk-pauk untuk sarapan
pagi. Lalu ia menuju ruang tamunya dan menyalakan televisi. Nita menikmati
sarapan paginya sambil menonton acara berita pagi pada salah satu stasiun
televisi.
Saat
acara berita tersebut memberitakan tentang seorang pelajar SMA bernama Anindya
Kusumawati yang berhasil meraih juara 1 olimpiade matematika tingkat nasional,
Nita berhenti menyantap sarapan paginya sejenak dan langsung terfokus pada
berita yang sedang diberitakan dan betapa kagetnya ia bahwa yang sedang
diberitakan adalah teman sekelas sewaktu masih duduk di bangku SD dulu.
Setelah
berita itu usai, Nita melanjutkan santap paginya. Setelah selesai sarapan, Nita
tiduran sejenak di kursi panjang sofa ruang tamunya sambil mengingat masa-masa
di SD dulu, saat masih dekat dengan Anindya. Nita dan Anindya sudah akrab sejak
masih TK dan persahabatan mereka masih terus berlanjut di bangku SD. Mereka
sering belajar bersama tiap usai pulang sekolah dan juga sering bermain
sekolah. Anindya memang murid paling pintar di kelas saat itu, ia selalu meraih
rangking 1, sedangkan Nita hanya dapat meraih rangking 2. Namun, kondisi
ekonomi keluarga Nita lebih baik daripada kondisi ekonomi keluarga Anindya.
Ayah Nita adalah seorang guru olahraga sedangkan ibunya adalah ibu rumah
tangga, sedang kedua orang tua Anindya hanyalah seorang buruh tani. Walaupun
demikian, Anindya tetap memiliki semangat belajar yang tinggi.
Namun,
ayah Nita dimutasi ke kota Jakarta saat Nita lulus SD, sehingga Nita dan
keluarganya harus pindah ke Jakarta. Masih teringat dalam pikiran Nita saat ia
datang ke rumah Anindya untuk pamit pindah ke Jakarta. Saat berangkat menuju
Jakarta, Nita menyempatkan diri untuk mendatangi rumah Anindya yang hanya
berdinding rotan. Waktu itu, Anindya sedang duduk di sebuah bangku kayu di
depan rumahnya dan melihat Nita turun dari mobilnya dan berjalan ke rumahnya.
“Anindya!”
sapa Nita sambil berjalan menuju Anindya
“Iya,
ada apa, Nita?” balas Anindya sambil beranjak dari bangku
“Bapak
ibumu kemana?” Tanya Nita
“Masih
di sawah, lagi panen.” Jawab Anindya
“Nin,
maaf aku gak bisa memenuhi janjiku ke kamu kalau kita akan terus bersama sampai
SMA nanti.” Kata Nita sambil mata mulai memerah tanda akan menangis
“Lho,
kenapa, Nit?” Tanya Anindya
“Ayahku
pindah kerja ke Jakarta dan aku sama keluargaku harus pindah ke sana,
meninggalkan kakek nenekku dan juga kamu, maaf ya!” jawab Nita mulai menangis
“Sebenarnya
aku ingin kita bersama sampai SMA, tapi kalau memang kamu harus pindah, tidak
mengapa asal kamu tidak ngelupain aku, Nit!” kata Anindya yang juga mulai
menangis
“Aku
gak bakal ngelupain kamu kok, Nin. Aku gak bakal tega ngelupain sahabatku
sendiri.” Kata Nita
“Makasih
ya, Nit!” kata Anindya
“Sama-sama,
Nin. Oh iya, aku pengen ngasih ini ke kamu, Nin.” Kata Nita sambil mengambil
dua buah kalung bintang dari sakunya
“Apa
ini, Nit?” Tanya Anindya sambil menujuk kalung tersebut
“Ini
kalung persahabatan kita, ku harap kamu memakainya sampai kapan pun dan aku pun
juga.” Kata Nita.
Mereka
berdua saling memakaikan kalung persahabatan itu. Nita memakaikan ke Anindya
dan sebaliknya, Anindya memakaikan ke Nita. Kemudian mereka saling berpelukan
dan tangis perpisahan mereka pecah di depan rumah Anindya.
“Nit,
jaga dirimu baik-baik disana ya! Aku bakal selalu merindukanmu, Nit.” Kata
Anindya sambil menyeka air matanya.
“Jaga
dirimu baik-baik juga disini, Nin! Aku juga bekal selalu merindukanmu. Aku
pamit ya, Nin! Assalamualaikum!” kata Nita pamit kepada Anindya.
“Waalaikumsalam!”
jawab Anindya.
Nita
kemudian berjalan menuju ke mobilnya. Saat akan masuk ke mobil, ia melihat ke
arah Anindya yang masih menangis terdiam melihatnya lalu ia melambaikan tangan
ke Anindya dan Anindya pun membalasnya. Sungguh itu adalah sebuah perpisahan
yang mengharukan dan harus mereka jalani.
Kurang
lebih setengah jam Nita terhanyut dalam ingatannya itu dan ia tersadar saat
ibunya menepuk kakinya, “Nita, malah ngelamun disini, cepet mandi sana keburu
siang!” “Ahhh…. Ibu, ngagetin Nita aja, jam berapa ini, bu?” Tanya Nita pada
ibunya dan ibunya menjawab, “Udah jam 5 lebih seperempat, cepetan mandi! Nanti
terlambat lho.” “Siap bu, laksanakan!” jawab Nita sambil beranjak dari sofa dan
langsung menuju kamar mandi sementara ibunya membereskan piring dan gelas yang
dipakai Nita untuk sarapan.
Hari
itu, Nita sangatlah senang karena ia dapat melihat sahabat di kampungnya yang
telah 5 tahun tidak ia jumpai walaupun hanya terbatas di layar televisi saja.
Dalam hatinya ia merasa bangga punya sahabat yang berprestasi bahkan menjadi
juara olimpiade matematika tingkat nasional. Tetapi dalam hatinya ia
bertanya-tanya apakah Anindya masih ingat dengannya, namun ia tetap yakin kalau
Anindya masih ingat dengannya.
Sore
harinya, Nita menonton acara talk show favoritnya. Kebetulan tamu yang undang
dalam acara saat itu adalah Anindya dan betapa senangnya hati Nita melihat
sahabatnya itu muncul di layar televisinya dengan berhijab. Nita dengan
antusias menyimak tiap-tiap pembicaraan yang dilakukan oleh pembawa acara dan
Anindya.
“Bagaimana
perasaan Anda saat tau bahwa Anda menjadi juara olimpiade matematika tingkat
nasional?” Tanya pembawa acara.
“Yang
pasti senang dan gak nyangka juga, selain senang karena bisa menjadi juara
olimpiade, saya bisa membanggakan kedua orang tua saya, sekolah saya,
teman-teman saya, dan lingkungan sekitar tempat tinggal saya.” Jawab Anindya
dengan wajah yang tampak ceria.
“Apa
yang selalu Anda lakukan supaya dapat meraih kesuksesan luar biasa seperti
ini?” Tanya pembawa acara.
“Hmm…
yang pasti selalu berdoa dan juga berusaha, walaupun ada keterbatasan tapi
jangan jadikan itu penghalang untuk menjadi sukses, dan juga seringlah berbakti
pada orang tua supaya mereka senang dan meridhoi kebaikan untuk saya, karena
ridho orang tua adalah ridho Allah.” Jawab Anindya.
“Siapakah
orang-orang yang selalu memberi dukungan kepada Anda supaya menjadi sukses
seperti ini?” Tanya pembawa acara.
“Yang
pasti ayah dan ibu saya, bapak dan ibu guru di sekolah, sahabat-sahabatku semua
tak terkecuali sahabatku yang sekarang ada di Jakarta dan sudah kurang lebih 5
tahun tidak ketemu, yang dulu sering ngehibur aku kalau aku sedang sedih,
ngasih motivasi juga buat aku, Nita Kusumandari, aku kangen kamu, aku harap
bisa cepet dapat kabar dari kamu.” Kata Anindya dengan mata yang mulai
meneteskan air mata sambil menatap ke arah kamera yang sedang on.
Nita
yang melihat kejadian itu juga ikut menangis. Ia tau jika Anindya pasti akan
selalu mengingatnya. Dalam hatinya, ia ingin sekali pulang kampung agar bisa
bertemu dengan Anindya.
Keesokan
paginya, di hari minggu yang cerah. Ayah Nita sedang sibuk membaca koran di
teras rumah dan ibu Nita keluar membawakan secangkir kopi pagi untuk ayah Nita,
“Ini kopinya, silahkan diminum, pah!” kata ibu Nita sambil meletakkan kopi di
meja samping kursi yang diduduki ayah Nita lalu ibu Nita duduk di kursi sebelah
meja itu, “Iya, mama! Makasih ya! Tambah cantik deh mama.” Kata ayah Nita
sambil mencolek pipi ibu Nita, “Ah, papa bisa aja deh, Nita kemana, pa?” Tanya
ibu Nita, “Biasa, kan minggu pagi biasanya Nita lari pagi keliling komplek
sini.” Jawab ayah Nita.
Tak
lama kemudian, muncul Nita dari balik gerbang rumahnya sambil mengelap
keringatnya menggunakan handuk good morning, “Assalamualaikum, papa mama!” sapa
Nita lalu bersalaman dan mencium tangan kedua orang tuanya itu, “Waalaikumsalam!”
jawab kedua orang tua Nita, “Papa, Nita boleh ngomong sesuatu gak?” Tanya Nita
kepada ayahnya, “Boleh, apa nak?” jawab ayahnya, “Kapan kita pulang kampung,
pa? Udah 5 tahun kita gak pulang kampung, aku udah kangen sama kakek nenek,
kangen Anindya juga.” Kata Nita kepada ayahnya, kemudian ayahnya tersenyum lalu
berkata, “Kebetulan, nak, lebaran tahun ini kita akan pulang kampung, ayah akan
membeli mobil buat mudik besok, ya maafkan ayah ibumu, nak, mobil ayah dulu dijual
untuk membeli rumah ini!” “Tak apa papa, yang penting papa bisa beli mobil
lagi, terus bisa pulang kampung deh.” Kata Nita dengan perasaan senang, “ya
sudah, sarapan dulu sana! Mama udah bikinin kamu nasi goreng.” “Oke mama!”.
Bulan
puasa pun tiba dan menjelang hari raya idul fitri seperti biasa pasti ada musim
mudik. H-2 lebaran, Nita sekeluarga mudik menggunakan mobil baru mereka. Nita
sangatlah senang karena akhirnya ia bisa pulang kampung dan ia tidak sabar
untuk bertemu lagi dengan Anindya. Namun sayangnya dalam perjalanan menuju
Tasikmalaya mereka terkena macet yang cukup parah. Akibatnya, mereka tiba di
Tasikmalaya pada H-1 lebaran pukul 11 malam dan Nita belum dapat bertemu dengan
Anindya. Hanya sebuah suasana bahagia bertemu dengan kakek neneknya dan
mendengar suara takbir yang menghiasi malam hari raya idul fitri yang ia temui
setelah 5 tahun lamanya tidak menjamah kampung halamannya.
Keesokan
paginya, dengan mengenakan pakaian muslim yang serba baru, Nita dan keluarganya
berangkat berjalan kaki menuju masjid bersama dengan warga-warga sekitar untuk
melakukan ibadah sholat idul fitri.
Setibanya
di masjid, Nita melihat-lihat sekeliling berharap ia dapat segera melihat
Anindya. Namun, ia belum dapat menemukannya. Selesai shalat idul fitri, Nita
berusaha mencari Anindya lagi dan akhirnya ia melihat seseorang yang pernah ia
lihat sebelumnya yang ia yakini sebagai Anindya hendak berjalan keluar komplek
masjid lalu ia berjalan agak cepat mendekatinya. Kemudian, Nita menepuk pundak
Anindya dan Anindya pun berbalik menghadapnya, “Anindya Kusumawati?”, “Iya,
saya Anindya, ada apa?”, “Masih ingat aku? Aku Nita, Nita Kusumandari.”, “Nita?
Ya Allah!” Nita dan Anindya langsung berpelukan sambil menangis bahagia karena
akhirnya mereka dapat berjumpa lagi setelah 5 tahun berpisah dan selama itu
mereka tidak pernah saling berkomunikasi. Mereka berdua telah menginjak masa
remaja dan keduanya sama-sama rajin berhijab. Setelah mereka berpelukan, mereka
saling mengucapkan “Minal Aidin Wal Faidzin” dan tak lupa Nita mengucapkan
selamat kepada Anindya karena telah menjuarai olimpiade matematika tingkat
nasional.
Siang
harinya, Nita sekeluarga bersilaturahmi ke rumah Anindya. Mereka saling
bersalam-salaman dan saling memaafkan kepada keluarga Anindya.
Sore
harinya, Anindya mengajak Nita berjalan-jalan menyusuri sawah dekat rumahnya.
Menikmati udara sore dan melihat pemandangan desa yang masih asri. Saat
berjalan-jalan, tiba-tiba Anindya melepas kerudungnya dan memperlihat kalung
bintang yang pernah diberikan Nita kepadanya.
“Kau
masih menyimpannya, Nin?” Tanya Nita.
“Aku
selalu menyimpan dan menggunakannya, inikan kalung persahabatan kita.” Kata
Anindya.
“Aku
juga masih memakainya.” Kata Nita sambil melepas kerudungnya dan memperlihatkan
kalung yang sama kepada Anindya.
“Kalau
aku melihat kalung ini, aku selalu ingat kamu, Nit, pas tadi pagi ketemu di
masjid itu aku pangling, wajah kamu sudah tampak berbeda sedikit, maaf ya!”
kata Anindya.
“Nggak
papa kok, Nin.” Kata Nita sambil tersenyum.
“Walaupun
kita terpisah, tapi kita tetap bersahabat, saling menyayangi, dan saling
merindukan, sampai kapan pun, oke, Nita Kusumandari!” kata Anindya.
“Oke,
Anindya Kusumawati!” kata Nita.
Mereka kemudian
saling menautkan jari kelingking mereka sebagai tanda persahabatan dan mereka
berjanji akan selalu menjaga ikatan persahabatan mereka sampai kapan pun.
Mereka saling bertukar nomor telepon agar tetap bisa saling berkomunikasi.
5 hari sudah
Nita berada di kampung halamannya untuk merayakan lebaran sekaligus melepas
rasa rindu dengan Anindya dan saatnya Nita harus pulang ke Jakarta. Saat mobil melewati depan rumah Anindya, Nita
turun dan langsung menuju rumah Anindya untuk pamit. Nita dan Anindya saling
berpelukan dan meneteskan air mata.
“Nin, aku pamit
pulang ke Jakarta, maaf kalau aku disini
cuma sebentar!” kata Nita.
“Gak papa, Nit,
walaupun cuma sebentar, aku senang kok, yang penting aku bisa bertemu kamu
lagi.” Kata Anindya.
“Makasih ya! Aku
pamit, Nin, jaga dirimu baik-baik disini ya!” kata Nita
“Iya, Nit, kamu
hati-hati di jalan ya! Salam buat teman-temanmu di Jakarta!” kata Anindya.
“Oke, Nin,
Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam!”
Nita kemudian
berjalan kembali ke mobilnya dan sebelum ia masuk mobil, ia melambaikan tangan
kepada Anindya dan Anindya pun membalasnya dengan lambaian tangan pula. Sama
seperti saat mereka berpisah 5 tahun lalu. Nita masuk ke mobilnya dan mobil itu
kemudian berlalu meninggalkan rumah Anindya menuju kota Jakarta.
Meskipun hanya
sebentar, tapi Nita sangat bersyukur diberi kesempatan untuk bertemu dengan
Anindya, sahabatnya sejak kecil. Karena sudah saling bertukar nomor telepon,
mereka dapat saling melepas rasa rindu
dengan SMS-an atau teleponan.
Inilah
persahabatan, sahabat sejati akan selalu ada untukmu sampai akhir hayatmu,
meskipun jarak memisahkan.
Selasa, 11 Juni 2013
Cerpen : Ku Ingin Setia
KU INGIN SETIA
Dika
mengendarai sepeda motornya dengan tergesa-gesa menuju terminal Giwangan. Dalam
hatinya berharap ia sempat menemui kekasihnya, Annisa yang hendak berangkat
Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Surabaya selama 4 bulan. Sesampainya di
terminal, ia bergegas menuju ruang tunggu terminal mencoba mencari Annisa,
namun ia tak kunjung menemukannya. Sementara itu, di dalam sebuah bus tujuan
Surabaya, Annisa melihat Dika yang tampak kebingungan mencarinya. Annisa segera
turun dari bus mumpung belum akan diberangkatkan dan segera ia berlari
menghampiri Dika dan memanggilnya, “Dika!” Dika pun segera menoleh ke arah datangnya
suara itu dan ia melihat Annisa sedang berlari ke arahnya,
“Dika,
maaf!” kata Annisa sambil mulai menangis
“Maaf
kenapa? Kenapa menangis, Nis?” kata Dika
“Maaf,
selama 4 bulan aku harus ninggalin kamu sendiri di kota ini, sebenarnya aku gak
ingin jauh dari kamu, Dik.” Kata Annisa sambil menyeka air matanya
“Itu
sudah tugas dari sekolahmu, sudah jalani saja dengan penuh rasa ikhlas, aku
juga sebenarnya gak ingin jauh dari kamu, tapi harus bagaimana lagi?” kata Dika
yang mulai menangis
“Jaga
cinta kita, Dik! Aku juga akan menjaganya, ku yakin kita pasti bias, Dik.” Kata
Annisa
“Pasti,
sayang. Aku kan setia sampai kamu kembali nanti, tetap jaga komunikasi!” kata
Dika
“Iya,
Dik. Aku juga akan setia untukmu, bisku mau berangkat, aku pamit, Dik. Assalamualaikum!”
kata Annisa sambil menjabat tangan Dika kemudian berlari ke bis
“Waalaikumsalam,
hati-hati di jalan, sayang! I Love You.” Kata Dika
“I
Love You too.” Kata Annisa sambil menoleh ke arah Dika.
Annisa masuk ke bisnya dan bis
yang ditumpanginya itu berangkat menuju kota Surabaya. Dika dan Annisa saling
melambaikan tangan disaat perpisahan itu. Bis itu pun terus melaju keluar
terminal dan tinggallah Dika yang mulai merasakan rindu dengan Annisa, begitu
pula dengan Annisa yang mulai merasakan rindu kepada Dika.
Keesokan
paginya, Dika terbangun dari tidur nyenyak dan diraihlah ponselnya yang berada
di meja samping ranjangnya. Dika melihat ada sms yang masuk dan langsung
membukanya dan ternyata sms itu dari Annisa yang selalu mengucapkan “Selamat
Pagi” kepada kekasihnya itu. Dika beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju
pintu kamarnya tapi langkahnya terhenti saat rasa rindunya kepada Annisa seakan
menghentikan langkahnya dan pikiran Dika bagai telah dipenuhi bayangan Annisa.
Lalu secara perlahan, Dika meneruskan langkahnya. Dengan segera ia mengambil
air wudhu dan menunaikan ibadah sholat subuh. Dika kemudian bersiap-siap untuk
berangkat sekolah dengan hati yang terus terasa dipeluk oleh rasa rindu.
Dika
berangkat menuju sekolah menggunakan sepeda motor matic-nya. Saat melewati SMK
tempat dimana Annisa bersekolah, rindu dalam hatinya semakin membara. Ia
teringat saat dulu sering menjemput Annisa saat pulang sekolah dan terkadang
mengajaknya makan siang bersama. Namun, Annisa sedang di Surabaya karena PKL
selama 4 bulan dan selama itu Dika yang bersekolah di SMA itu harus menjalani
harinya di kota Jogja tanpa sosok Annisa berada di sampingnya dan hanya sebuah
ponsel yang ia pakai untuk berkomunikasi dengan Annisa.
2
bulan berlalu sejak Annisa berangkat PKL ke Surabaya, Dika masih merasakan
rindu setengah matinya kepada Annisa. Ia berusaha untuk tetap setia dengan
Annisa walaupun sedang jauh darinya.
Dika
serasa terusik oleh seorang adik kelasnya yang setiap hari mengikutinya tanpa
ia tau sebabnya. Dialah Arni, ia jatuh cinta dengan Dika karena ia tau bahwa
Dika adalah seorang bintang kelas di kelas XI IPA 4. Arni selalu berusaha untuk
mendapatkan cinta Dika tapi ia tak tau jika Dika sudah mempunyai seorang
kekasih. Arni tak mampu mengungkapkan perasaannya kepada Dika, ia Cuma bisa
berusaha memikat hati Dika dan berharap Dika jatuh cinta kepadanya.
Sampai
suatu malam, ada beberapa sms masuk ke ponsel Dika yang semuanya berisi puisi.
Dika bertanya kepada si pengirim, “Maaf ini nomornya siapa ya?” namun si
pengirim hanya menjawab, “Aku yang selama ini memujamu, mas Dika.” Jawaban itu
membuat Dika semakin bertanya-tanya.
Selama
seminggu ponsel Dika terus dikirimi puisi cinta oleh Arni, tapi Arni sengaja
merahasiakan identitasnya dan hanya berkata bahwa ia memuja dan mencintai Dika.
Setelah seminggu hanya mengirim puisi cinta kepada Dika lewat sms, Arni
mengirim puisi lewat selembar kertas yang dititipkannya lewat temannya, Septi.
Septi mendatangi kelas XI IPA 4 sambil membawa puisi dari Arni untuk diberikan
kepada Dika saat istirahat kedua berlangsung. Ia melihat Dika sedang duduk pada
sebuah bangku di depan kelas XI IPA 4 lalu menyapanya,
“Mas
Dika!” sapa Septi
“Ya,
ada apa? Kamu siapa?” kata Dika
“Saya
Septi, mas Dika. Anak kelas X1. Saya kesini mau ngasih titipan puisi buat mas.”
Kata Septi
“Buat
saya? Dari siapa, dek?” Tanya Dika
“Wah,
maaf mas! Itu rahasia, pokoknya dia cinta sama mas. Ini mas, saya balik ke
kelas dulu.” Kata Septi sambil meletaknya puisi di samping Dika lalu berlalu
meninggalkan Dika
“Dek,
dek, tunggu dulu, dek!” kata Dika memanggil Septi yang berlalu meninggalkannya
Hampir
sebulan Dika terus mendapat kiriman puisi cinta dari seseorang yang mengaku
orang yang sedang jatuh cinta padanya. Dalam puisi yang ia dapatkan berisi
kata-kata yang mengharap agar ia menyatakan cinta pada si pengirim. Namun,
sudah pasti ia tak bisa karena cintanya sudah diberikan kepada Annisa yang
selama 1 tahun sudah setia mencintainya. Karena Dika ingin cepat-cepat tau
siapa yang mengirim puisi kepadanya selama ini, ia menghadang Septi yang hendak
pulang dan sedang akan menghidupkan motornya,
“Dek,
boleh bicara sebentar?” kata Dika kepada Septi
“Tentang
apa, mas?” jawab Septi
“Siapa
sebenarnya orang yang mengirim puisi kepada saya, tolong katakan dengan
sejujur-jujurnya!” kata Dika
“Maaf
mas, saya gak bisa, saya mau pulang.” Kata Septi
“Kunci
motormu saya ambil dan gak akan saya kembalikan sebelum kamu ngasih tau siapa
yang ngirim puisi itu.” Kata Dika sambil mencabut paksa kunci motor Septi dari
motornya.
“Apa-apaan
sih, mas? Balikin gak!” kata Septi yang agak gusar.
“Gak
akan saya balikin sebelum kamu bilang siapa yang ngirim puisi itu ke saya.”
Kata Dika dengan tegas.
“Ya
udahlah, mas. Sebenernya yang ngirim puisi itu Arni, temen sekelasku. Dia jatuh
cinta sama mas Dika makanya ia nulis dan ngirim puisi cinta buat mas. Sekarang
dia masih di kelas. Ayo, saya antar, mas!” kata Septi kemudian turun dari
motornya dan berjalan menuju kelasnya dan Dika mengikuti di belakangnya.
Setibanya
di kelas X1, Dika dan Septi melihat Arni sedang asyik menulis puisi, lalu Septi
memanggilnya, ”Arni, dicari mas Dika.” Arni kaget dan wajahnya menjadi malu
lalu ia berlari keluar kelasnya dan berlari menuju parkiran, “Arni, tunggu!”
teriak Septi lalu berlari mengikuti Arni kemudian Dika mengikutinya dengan
pelan.
Di
parkiran, Septi melihat Arni berdiri bersandar di tembok sambil menangis, lalu
Septi datang menghampirinya,
“Ar,
kamu kenapa menangis?” Tanya Septi.
“Aku
tadi lihat-lihat FB-nya mas Dika, ternyata dia udah punya pacar, Sep.” jawab
Arni sambil terus menangis tersedu-sedu.
“Arni,
kalo mas Dika udah punya pacar ya sudah, jangan ganggu hubungan mas Dika sama
pacarnya!” kata Septi.
“Tapi
aku cinta mas Dika, sep!” kata Arni lalu memeluk Septi dan terus menangis.
“Arni,
jadi selama ini kamu yang mengirim puisi cinta ke aku?” Tanya Dika dengan suara
datar.
“Iya
mas, maaf ya, aku jatuh sama mas Dika, tapi aku gak berani mengungkapkan
cintaku ke mas.” Jawab Arni sambil menyeka air matanya.
“Tidak
apa-apa, dek. Puisimu bagus semua kok. Cuma tolong jangan diberikan ke saya,
saya sudah punya pacar!” kata Dika
“Makasih
ya, mas Dika! Sekali lagi maaf, kalau selama ini aku ganggu mas!” kata Arni.
“Nggak
ganggu kok, kamu boleh jatuh cinta dengan siapa saja! Maaf, saya gak bisa
nerima cinta kamu, dek! Kita berteman saja!” kata DIka lalu tersenyum.
“Iya
mas.” Kata Arni kemudian tersenyum lalu bersalaman dengan Dika.
4
bulan berlalu, Annisa selesai PKL dan pulang ke Jogja. Dika duduk manis di
sebuah bangku di terminal Giwangan menunggu bus yang ditumpangi Annisa tiba.
Setelah menunggu lama, akhirnya bus yang ditumpangi Annisa tiba dan turunlah
Annisa dari bus itu sambil membawa barang bawaannya dan langsung memhampiri
Dika,
“Kenapa?
Kok diam aja?” Tanya Annisa sambil tersenyum.
“Annisa,
kamu tambah cantik aja.” Jawab Dika lalu tersenyum.
“Iya
po? Duh, jadi malu aku.” Kata Annisa.
“Beneran
kok, Annisa sayang.” Kata Dika.
“Ah,
bisa aja! Gak ada apa-apakan selama aku pergi?” Tanya Annisa.
“Ya,
cuma ada sedikit masalah.” Kata Dika dengan suara semakin merendah.
“Ada
apa? Cerita aja gak apa-apa!” kata Annisa
“Ada
adik kelas jatuh cinta denganku.” Kata Dika dengan suara rendah.
“Terus?”
Tanya Annisa singkat.
“Aku
tolak, Cuma aku ijinin dia temenan saja, karena aku ingin setia denganmu,
Annisa Purwandari.” Kata Dika.
“Aku
percaya kamu kok, Andika Wiratama.” Kata Annisa lalu memegang tangan Dika.
“Makasih
atas kepercayaanmu padaku! Yuk, aku antar pulang!” kata Dika mengajak pulang.
“Sama-sama,
yuk! Udah rindu orang tua di rumah aku.” Kata Annisa.
Akhirnya,
rindu yang membara di hati Dika selama 4 bulan terobati oleh pulangnya Annisa
dari Surabaya. Meskipun selama 4 bulan itu ada suatu hal yang seolah memaksa
Dika untuk berpaling dari Annisa, tapi tetap rasa rindu dan cintanya ia berikan
kepada Annisa walau mereka berdua terpisah oleh jarak.
Setialah
dengan orang yang kamu sayangi, walau pun mereka sedang jauh dari darimu.
Minggu, 28 April 2013
Artikel : Makna Jari-Jari Tangan Kita
MAKNA
JARI-JARI TANGAN KITA
Sebuah tangan adalah salah satu
nikmat Tuhan yang diberikan kepada setiap insan. Di setiap tangan yang normal
memiliki 5 jari yang membantu kita dalam menggenggam. Menurut saya, kelima jari
kita memiliki suatu makna yang berhubungan dengan kehidupan kita dan juga
fenomena yang terjadi di sekitar kita. Namun ini bukanlah sebuah tahayul yang
saya buat-buat, karena saya tidak suka bertahayul, tapi ini saya buat hanya
untuk sekedar sharing saja.
Menurut pendapat saya, di tiap jari
tangan kita, terdapat suatu makna yang dapat saling bertautan satu sama lain.
Dan makna-makna tersebut adalah sebagai berikut :
~ Jempol / Ibu
Jari : memiliki makna rasa hormat. Sesuai dengan namanya yaitu ibu jari yang
terdapat kata ibu, orang tua kita terdiri dari ayah dan ibu yang keduanya harus
kita hormati. Selain itu, dengan ibu jari kita sering memberi penghargaan atas
hasil karya orang lain berupa acungan jempol.
~ Jari Telunjuk
: mungkin jari ini memiliki banyak makna, salah satunya memiliki makna suatu
keinginan, mengapa demikian? Ingatkah saat Anda sewaktu kecil diajak ibu ke
pasar dan melihat serta menginginkan mainan? Pasti Anda akan menunjuk-nunjuk
mainan itu dengan jari telunjuk Anda sambil berkata “Bu, aku minta itu!”.
~ Jari Tengah :
jari ini merupakan jari yang paling panjang atau lebih tinggi dari jari-jari
lain yang terdapat pada tangan kita, seseorang yang merasa paling tinggi ialah
orang sombong, sifat sombong adalah salah satu sifat buruk, sehingga saya
berpendapat bahwa jari tengah itu memiliki makna sifat buruk. Alasan lain,
karena jari tengah yang mengacung itu biasanya berkonotasi negative.
~ Jari Manis :
jari ini menurut saya mempunyai makna kasih sayang, karena di jari inilah biasa
dipakaikan cincin.
~ Jari
Kelingking : memiliki makna suatu ikatan, baik itu ikatan persahabatan, cinta,
atau pun saudara.
Itulah makna di tiap-tiap jari
tangan manusia menurut saya. Apabila Anda ingin menambahkan atau mengoreksi,
dipersilahkan! J
MAKNA LAIN DARI
JARI-JARI TANGAN KITA
Dari makna-makna di tiap jari tangan
kita di atas, dapat saling bertautan membentuk suatu fenomena yang sering
terjadi di sekitar kita.
Coba perhatikan jari telunjuk,
tengah, dan manis Anda! Mereka letaknya saling berdampingan, mengandung
beberapa makna yaitu :
- Jari telunjuk yang berdamping dengan jari tengah mengandung makna bahwa kita bisa saja menggunakan cara yang tidak halal untuk meraih apa yang kita inginkan seperti mencuri dan merampok. Sedangkan jari telunjuk dengan ibu jari, mengandung makna bahwa bila kita menginginkan suatu dengan cara yang tidak baik dapat pula berimbas kepada orang-orang yang seharusnya kita hormati, contohnya : seorang anak yang menginginkan sepeda motor dan meminta kepada ayahnya supaya membelikannya sepeda motor namun ayahnya berkata belum bisa pada anaknya karena alasan belum ada uang yang cukup, anak itu menjadi marah kepada ayahnya bahkan mengancam ayahnya sendiri.
- Jari tengah yang berdamping dengan jari manis mengandung arti bahwa rasa cinta atau suka bisa saja ditujukan kepada hal-hal buruk, contoh : orang yang suka mengkonsumsi miras dan narkoba. Sedangkan jari manis dengan jari kelingking mengandung makna bahwa kecintaan kita pada hal-hal buruk dapat berdampak pada ikatan persahabatan atau pun cinta, contohnya : seorang pecandu narkoba yang mempengaruhi kawan dekatnya untuk mencicipi narkoba atau dijauhi oleh kawan dekatnya karena takut diajak memakai narkoba.
Jari manis dan jari telunjuk kita
condong seolah ingin menekuk seperti jari tengah yang telah kita tekuk, namun
lebih condong jari manis kita. Dari peristiwa tersebut dapat kita petik makna
bahwa sebuah keinginan terkadang memunculkan suatu tindakan buruk apabila orang
yang memiliki keinginan itu mempunyai pikiran yang pendek sehingga menghalalkan
segala cara, seperti ingin cepat kaya tapi dengan cara korupsi. Serta suatu
rasa cinta kadang menjerumuskan kita pada suatu hal yang buruk, dapat kita
ambil contoh dari banyaknya kasus remaja putri yang hamil diluar nikah karena
cara berpacaran yang kebablasan.
Seorang teman saya menjelaskan hal tersebut melalui sebuah permainan tangan sederhana. Bagaimanakah permainan tersebut? Berikut penjelasannya :
- Sentuhkan tiap ujung jari pada tangan kanan dengan tangan kiri (jempol dengan jempol, telunjuk dengan telunjuk, dst).
- Tekuk kedua jari tengah ke bawah.
- Cobalah Anda pisahkan keempat jari yang telah bersentuhan ujungnya dan coba rasakan apakah kedua jari manis Anda yang telah bersentuhan ujungnya dapat dipisahkan?
Dari permainan tersebut dapat dijelaskan maknanya, yaitu :
- Mengapa jari tengah ditekuk? Karena seperti penjelasan di awal bahwa jari tengah yang mengacung biasanya berkonotasi negatif.
- Ibu Jari dapat lepas dari persentuhan, mempunyai makna bahwa kita dapat terpisah dari orang tua kita atau orang yang sangat kita hormati.
- Jari Telunjuk dapat lepas dari persentuhan, mempunyai makna bahwa kita bisa saja tidak atau belum dapat mewujudkan keinginan kita.
- Jari Kelingking dapat lepas dari persentuhan, mempunyai makna bahwa kita dapat terpisah dari orang yang memiliki ikatan persahabatan, cinta, atau saudara.
- Jari Manis tidak dapat lepas dari persentuhan, mempunyai makna bahwa rasa cinta atau kasih sayang tidak akan pernah lepas dari diri kita.
Jadi, karena bermakna kasih sayang itulah, sebuah cincin tanda cinta selalu dipasangkan di jari manis kita.
Dan dari permainan tersebut dapat disimpulkan bahwa kita dapat terpisah dari orang-orang yang ada dalam kehidupan kita dan mengalami kegagalan dalam meraih keinginan kita. Tetapi rasa kasih sayang akan selalu ada dalam diri kita. Asalkan tidak ada suatu sifat buruk yang dapat mengurangi atau menghapus rasa kasih sayang itu.
Sekali lagi, artikel yang saya buat
ini hanya untuk sekedar menyalurkan pemikiran dan ini bukanlah sebuah tahayul.
Semoga dapat bermanfaat bagi Anda, terima kasih!
Minggu, 24 Maret 2013
Kaulah Dewiku
Andi
mengendarai motornya dengan agak terburu-buru, “Pulsa malah habis dan harus ke
konter beli pulsa, lagi mau nanyain tugas juga, huh.”, kata Andi dengan raut
wajah agak kesal.
Sesampainya
di depan konter ia mengambil dompet di saku celana kanannya, sembari berjalan
menuju ke konter tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang perempuan berambut
lurus panjang hingga hapenya terjatuh, “Ups, maaf, mbak, aku gak sengaja, aku
ambilin ya.”, kata Andi kemudian akan mengambil hape perempuan tersebut, “Gak papa,
mas, biar saya saja yang ambil.”, kata perempuan itu sambil akan mengambil
hapenya. Tanpa disengaja, tangan mereka bersentuhan dan mata mereka saling
bertatapan. Laki-laki penjaga konter berkaca mata itu cuma bisa tersenyum
sambil menggelengkan kepalanya melihat kejadian tersebut. Andi lalu tersadar
dan kemudian menarik tangannya yang telah menggenggam hape perempuan tersebut
lalu dengan cepat berkata, “Aduh, sekali lagi maaf, mbak, udah ngejatuhin hape
mbak, ini hapenya.” Andi mengembalikan hape itu kepada si perempuan dan
perempuan itu berkata, “Oh, gak kenapa-kenapa kok, mas, cuma hape jelek, udah
biasa jatuh, maaf juga udah megang tangan kamu.” Lalu Andi berkata lagi sambil senyum dan
menatap wajah si perempuan yang mulai tampak malu, “Oh, gak kenapa-kenapa juga
kok, mbak”. Wajah perempuan itu semakin malu dan kemudian ia berlalu
meninggalkan Andi di konter itu.
Andi
menjadi penasaran dengan perempuan yang ia temui di konter, sehingga ia menjadi
kepikiran dengannya dan ia ingin menemuinya lagi. Seminggu kemudian, di konter
yang sama Andi melihat perempuan itu lagi dan segera mendatangi dan menyapanya,
“Hai,
kamu masih ingat saya?”
“Hai
juga, siapa ya?” kata perempuan itu sambil menunjuk Andi.
“Saya
yang ngejatuhin hape kamu seminggu yang lalu.” jawab Andi.
“Oh,
iya aku ingat, maaf waktu itu aku langsung ninggalin kamu, aku malu soalnya.”
kata perempuan itu.
“Gak papa
kok, oh iya, kenalin aku Andi, Andi Suprapto, nama kamu siapa?” kata Andi
sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Dewi,
Dewi Anggraeni, salam kenal ya!” kata perempuan yang bernama Dewi itu sambil
menjabat tangan Andi.
“Salam
kenal juga!” kata Andi.
“Udah ya,
aku mau pulang dulu.” kata Dewi kemudian hendak meninggalkan Andi.
“Yaah, tapi
aku masih pengen ngobrol sama kamu.” kata Andi.
“Yaudah,
mana hape kamu, kita nanti telponan sehabis belajar” kata Dewi sambil
menengadahkan tangannya.
“Telponan?
Oke deh, ini hape aku.” kata Andi sambil memberikan hapenya ke Dewi.
“Ini,
disimpan ya! Aku pulang dulu.” kata Dewi sambil mengembalikan hape Andi
kemudian berlalu meninggalkan Andi.
Malam
harinya setelah belajar, dengan semangat Andi mengambil hapenya dan segera
menelepon Dewi, sementara itu di rumah Dewi, hape Dewi berbunyi dan ia pun
segera menjawabnya,
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,
ini Dewi?”
“Iya, ini
Andi, kan ?”
“Iya bener,
udah selesai belajarnya?”
“Udah kok,
kamu?”
“Udah juga,
eh, rumahmu dimana?”
“Di atas
tanah, di bawah langit, hehe.”
“Haduh.”
“Bercanda
lho, sama kayak kamu, dusun Wonoarjo, gak jauh kok dari rumah kamu.”
“Lho, gak
jauh dari rumah aku? Kamu yang menghuni rumah baru itu, kah?”
“Iya, aku
baru seminggu disini, aku baru saja pindah dari Jakarta ”
“Tapi kok
kamu bisa tau rumah aku?”
“Kan kamu anaknya kepala
dusun sini, aku tadi tanya sama bapakku.”
“Oh, disini
mau sekolah dimana?”
“SMA 2,
kamu sekolah dimana?”
“Yaah, kita
gak satu sekolah dong, aku di SMA 1”
“Kan aku bisa bareng kamu
kalo berangkat sekolah, aku sama kamu sama-sama kelas 11 lho.”
“Dari mana
kamu tau kalo aku kelas 11?”
“Dari
bapakku juga, bapakmu kan
temen kecilnya bapakku, jadi mereka udah akrab dong.”
“Lha, baru
tau aku, hehehe.”
“Hehehe,
aku juga, udah dulu yuk, udah malam, waktunya tidur, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Sejak saat
itu, Andi dan Dewi semakin akrab. Tiap berangkat dan pulang sekolah, mereka
selalu bersama. Kadang pula, Andi mengajak Dewi makan-makan.
Sejak awal
bertemu dengan Dewi, Andi sudah memiliki rasa cinta terhadap Dewi namun hanya
bisa ia pendam dalam hatinya. Hingga pada suatu minggu pagi yang cerah dan
sejuk, Andi mengajak Dewi ke bukit untuk melihat pemandangan dari atas bukit
itu dan juga ingin menyatakan perasaannya kepada Dewi. Setibanya di atas bukit,
Dewi langsung takjub melihat sebuah pemandangan hijaunya bukit yang berselimut
kabut yang belum pernah ia lihat sebelumnya,
“Wah, indah
sekali, Andi.”
“Belum
pernah melihat, kan ,
pemandangan indah seperti ini?”
“Iya, di
Jakarta gak ada yang seperti ini, indah banget”
“Seindah
wajah kamu, Dewi.”
“Ah,
nggombal kamu, tapi kok wajahmu kok kelihatan cemas gitu?” kata Dewi sambil
menepuk pundak Andi.
“Gak
kenapa-kenapa, Dewi.” kata Andi lalu berusaha tersenyum.
“Kamu pasti
lagi kenapa-kenapa, cerita saja! siapa tau aku bisa bantu.”
“Sebenernya…”
kata Andi agak ragu lalu memegang tangan Dewi.
“Apa, Andi?
Kamu kok jadi pegang tangan aku?” kata Dewi sambil melihat kedua tangannya yang
dipegang Andi.
“Kamu itu cantik,
baik, dan tutur kata lemah lembut.” kata Andi.
“Iyakah? Makasih,
tapi kok kamu menatapku seperti itu? Aku jadi malu.” kata Dewi dengan pipi
memerah.
“Iya,
membuatku jatuh cinta, aku sayang kamu, Dewi.” kata Andi.
“Kamu cinta
aku, Andi? Kamu serius apa bercanda sih?” kata Dewi kurang percaya.
“Aku
serius, Dewi.” kata Andi sambil terus menatap.
“Lalu aku
harus bilang apa?” kata Dewi bingung.
“Terima aku
atau tolak aku, semua terserah padamu.” kata Andi sambil memegang tangan Dewi
lebih erat lagi.
“Belum
pernah aku merasakan momen seperti ini, Andi.” kata Dewi yang mulai meneteskan
air mata.
“Iyakah? Tapi kenapa kamu menangis?” kata Andi.
“Aku nggak nangis kok, aku cuma seneng aja,
kamu tampan, baik, dan tutur kata kamu lemah lembut juga, aku ingin mengatakan
sesuatu.” kata Dewi sambil melepas genggaman Andi dan kemudian memegang kedua
pipi Andi.
“Katakan
saja, Dewi!” kata Andi.
“Aku juga
sayang kamu, Andi, dari lubuk hatiku yang paling dalam.” kata Dewi.
“Kau
serius?” kata Andi.
“Iya, Andi,
mulai detik ini kita pacaran.” kata Dewi kemudian memeluk tubuh Andi dan Andi
pun merasa bahagia karena cintanya diterima oleh Dewi yang ia jadikan pujaan
hatinya selama ini.
Suatu hari,
dusun Wonoarjo mengadakan acara jalan santai. Andi dan Dewi berjalan bersama
dengan mesranya dan sesekali berfoto dengan kamera hapenya mereka punya.
Sementara itu, kedua ayah mereka berjalan berdampingan di belakang mereka
sambil mengamati anak-anak mereka tersebut,
“Pak
Wanto.” kata ayah Andi.
“Ada apa, Pak Suprapto?”
kata ayah Dewi.
“Sepertinya
nanti kita akan berbesan, pak.” kata ayah Andi.
“Hahaha,
iya pak, Andi dan Dewi memang sepertinya cocok sekali.” kata ayah Dewi.
“Bukan
sepertinya lagi, tapi memang cocok, anak saya yang tampan itu memang pantas
untuk anak Anda yang cantik seperti istri Anda itu.” kata ayah Andi.
“Memang
rencananya, kalau sudah waktunya, saya ingin Dewi menikah dengan Andi, saya tau
Andi itu orangnya berpribadi yang baik, santun pula seperti bapaknya.” kata
ayah Dewi.
“Bisa aja
Pak Wanto ini, ya saya sangat setuju kalau mereka nanti menikah, tapi sekarang
biarkan mereka berpacaran dulu, menikmati masa remaja mereka.”
Andi begitu
setia menyayangi Dewi, begitu pula sebaliknya. Mereka berusaha menjaga cinta
mereka sampai kapan pun.
Beberapa
tahun kemudian, setelah Andi dan Dewi memiliki pekerjaan yang layak. Kedua
orang tua Andi dan Dewi menikahkan mereka berdua dan lengkaplah sudah
kebahagiaan mereka setelah lahir anak mereka yang diberi nama Syifa Andewi
Suprapto. Dan pastinya mereka membangun keluarga yang sakinah, mawadah, dan
warohmah.
By : Trian Anugrah
Tenda Biru
TENDA BIRU
Benita
adalah seorang gadis cantik yang tipenya setia tapi mudah sekali marah. Dia
mempunyai pacar bernama Cakra yang dia adalah seorang pengusaha yang mempunyai
sebuah perusahaan besar di luar kota .
Suatu
hari, Benita sedang duduk santai sambil menonton televisi dan tiba-tiba hapenya
berbunyi karena pacarnya meneleponnya, dia pun dengan penuh semangat mengangkat
telepon dari pacar tercintanya itu,
“Hallo,
sayang?” kata Benita dengan nada ceria.
“Hallo
juga, sayang, aku pulang loh…”, kata Cakra.
“Yang
bener sayang?” Tanya Benita yang kurang percaya.
“Iya
benerlah, ke rumahku ya nanti, soalnya…”
“Kangen
ya, oke deh, aku ke rumah kamu” kata Benita memotong perkataan Cakra.
“Tapi
sayang, aku belum….”
“Belum
apa?, belum mandi, kan ?, ya udah mandi dulu sana !, aku siap-siap dulu,
dah…” kata Benita yang kemudian menutup telepon.
Benita
kemudian masuk ke kamarnya, lalu ia berdandan yang cantik dengan penuh semangat
dan rasa senang, sementara ia berdandan hapenya terus berbunyi berkali-kali karena
pacarnya terus mencoba menelepon, setelah ia selesai berdandan ia pun
mengangkat telepon dari pacarnya itu,
“Sayang,
aku belum selesai…”
“Belum
selesai mandi, udah selesaiin dulu!, aku lagi mau OTW ke rumah kamu, dah…” kata
Benita memotong pembicaraan dan kemudian menutup teleponnya.
Benita
pun menuju rumah Cakra dengan mengendarai motor matiknya. Begitu sampai di
rumah Cakra ia bingung melihat orang-orang yang berdandan serba rapi seperti
mau kondangan mendatangi rumah Cakra, ia kaget melihat tenda berwarna biru yang
berdiri kokoh di depan rumah Cakra, ia teringat akan lagu ‘Tenda Biru’ yang
dipopulerkan oleh Dessy Ratnasari yang lagu mengisahkan tentang seorang
perempuan yang ditinggal oleh kekasihnya menikah dengan perempuan lain tanpa
memberitahu perempuan tersebut, oleh karena itu Benita mengira kalau Cakra akan
menikah dengan perempuan lain. Dalam sekejap, Benita yang tadinya ceria berubah
menjadi sangat marah dan berjalan menuju arah Cakra yang sedang ‘among tamu’
dan langsung menampar Cakra di hadapan orang-orang yang sedang kondangan,
“Pengkhianat….,
kamu udah gak setia sama aku?, tega banget kamu ninggalin aku dan nikah sama
cewek lain” kata Benita sambil marah-marah.
“Aku
itu nggak….”
“Nggak
apa?, nggak setia lagi sama aku?, iya kan ?”
kata Benita memotong kata Cakra yang berusaha menenangkan Benita.
“Sayang,
…”
“Gak
usah panggil sayang lagi!, dasar…” kata Benita memotong.
“Siapa
yang mau nikah, ini bukan pesta kawinan, ini pesta sunatan adikku” kata Cakra
yang memotong perkataan Benita dengan nada yang lebih tinggi sehingga membuat
Benita menjadi tercengang.
Cakra
lalu menarik Benita masuk, melewati meja prasmanan, dan masuk ke sebuah kamar
yang terdapat adiknya Cakra yang terlihat baru saja disunat sedang ditunggui
oleh neneknya,
“Hihihi,
adik kamu sunatan to?” kata Benita dengan wajah yang berubah menjadi malu.
“Iya,
emang kenapa?”, kata Cakra dengan nada kesal.
“Kenapa
gak bilang, sih?”, Tanya Benita.
“Aku
tadi udah nelpon kamu berkali-kali buat ngasih tau kalo adikku sunatan, tapi
kamu malah motang-motong mulu”, jawab Cakra dengan nada lebih kesal.
Cakra
lalu menarik Benita ke depan rumahnya,
“Kamu
udah bikin aku malu di depan tamu undangan, mulai sekarang kita putus, LOE GUE
END!!!”, kata Cakra.
“Jangan!,
jangan!, kok putus sih?” kata Benita sambil berlutut kepada Cakra.
“Habis
kamu dah bikin malu, sekarang pergi dari sini”, kata Cakra sambil mengacung
jarinya ke arah jalan depan rumah.
Benita
mulai menangis tersedu-sedu dan berlari menuju motornya dan akhirnya Benita
pulang dengan rasa sesalnya.
By : Trian Anugrah
By : Trian Anugrah
Langganan:
Postingan (Atom)